Forgive Doesn’t Mean Forget.
Hmm„,saya lupa siapa yang menasehati saya dengan kata-kata demikian. Namun saya tetap ingat kata-katanya dan sampai sekarang (sadar atau tak sadar) saya tetap menggunakan prinsip ini.
Jika Anda para pembaca setia coretan ini *halaaah* bertanya, “Mengapa?”, saya biasanya menjawab dengan perandaian dimana Anda terperosok ke dalam sebuah lubang pada satu jalan. Dan karena ini hanya sebuah andai-andai, please jangan protes yaaa… :)
Kita berjalan di sebuah jalan bernama kehidupan *walaupun lebay/alay, ingat! Tidak ada protes! :p*, tidak bisa dipungkiri tidak semua jalan lurus dan datar. Terkadang berliku dan/atau berlubang.
Ibarat terluka oleh lisan atau perbuatan orang lain, saat itu Anda jatuh terperosok ke dalam lubang ini. “Memaafkan” berarti Anda ikhlas dan sudah berdamai dengan keadaan saat itu, tak ada lagi dendam. Namun *bagi saya* adalah salah bila Anda “Melupakan” lubang tersebut, karena jika Anda melupakannya maka kemungkinan Anda kembali terperosok ke dalam lubang yang sama adalah jauh lebih besar.
“Lalu, apakah sekejam itu kita tak memberikan mereka kesempatan untuk berubah?” Hmm„,dengan memegang prinsip di atas, bukan berarti Anda tak memberi mereka kesempatan untuk berubah. *Let’s back to the hole :)* Anda bisa saja menghapus memori mengenai keberadaan lubang itu “hanya”—sekali lagi—“hanya” jika Anda (memang) melihat lubang itu sudah tidak ada lagi di sana.
Did you get it readers? Jika Anda ingin mencoba memberi kembali kepercayaan Anda, pastikan hal itu terjadi bukan karena mendengar janji-janji akan sebuah perubahan tetapi karena Anda melihat perubahan-perubahan yang menjanjikan…
Sekian kiranya sharing saya kali ini, setuju atau tidak itu adalah hak masing-masing Anda readers… Semoga jadi pembelajaran baik bagi kita semua… C u again next time ;)
Forgive what hurt you, but never forget what it taught you!
Forgive Doesn’t Mean Forget.
Hmm„,saya lupa siapa yang menasehati saya dengan kata-kata demikian. Namun saya tetap ingat kata-katanya dan sampai sekarang (sadar atau tak sadar) saya tetap menggunakan prinsip ini.
Jika Anda para pembaca setia coretan ini *halaaah* bertanya, “Mengapa?”, saya biasanya menjawab dengan perandaian dimana Anda terperosok ke dalam sebuah lubang pada satu jalan. Dan karena ini hanya sebuah andai-andai, please jangan protes yaaa… :)
Kita berjalan di sebuah jalan bernama kehidupan *walaupun lebay/alay, ingat! Tidak ada protes! :p*, tidak bisa dipungkiri tidak semua jalan lurus dan datar. Terkadang berliku dan ataupun berlubang.
Ibarat terluka oleh lisan atau perbuatan orang lain, saat itu Anda jatuh terperosok ke dalam lubang ini. “Memaafkan” berarti Anda ikhlas dan sudah berdamai dengan keadaan saat itu, tak ada lagi dendam. Namun *bagi saya* adalah salah bila Anda “Melupakan” lubang tersebut, karena jika Anda melupakannya maka kemungkinan Anda kembali terperosok ke dalam lubang yang sama jauh lebih besar.
“Lalu, apakah sekejam itu kita tak memberikan mereka kesempatan untuk berubah?” Hmm„,dengan memegang prinsip di atas, bukan berarti Anda tak memberi mereka kesempatan untuk berubah. *Let’s back to the hole :)* Anda takkan mengingat sebelumnya ada lubang “hanya”—sekali lagi—“hanya” jika Anda memang tak melihat lagi ada lubang.
Did you get it readers? Berilah kembali kepercayaan Anda bukan karena mendengar janji-janji akan sebuah perubahan tetapi karena Anda melihat perubahan-perubahan yang menjanjikan…
Sekian kiranya sharing saya kali ini, setuju atau tidak itu adalah hak masing-masing Anda readers… Semoga jadi pembelajaran baik bagi kita semua… C u again next time ;)
Forgive what hurt you, but never forget what it taught you!
Ghiboo.com - Meskipun sering diabaikan, mencuci tangan dengan sabun merupakan kunci hidup sehat. Hal ini perlu disadari mengingat tangan menjadi media potensial bagi kuman untuk menularkan berbagai penyakit.

(Source: Yahoo!)
(by Inside_man)
2628. Mid-Autumn Festival. Happy Mid-Autumn Festival guys! Hope you guys are enjoying the moon & moon cakes :)